Senin, 21 Februari 2011

4B.HIDROKARBON



B1. Karakteristik Kimia dan Fisik

Struktur Hidrokarban (HC) terdiri dari elemen hidrogen dan korbon dan sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4 atom karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan padatan. HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu.
Berdasarkan struktur molekulnya, hidrokarbon dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu hidrokarban alifalik, hidrokarbon aromatik dan hidrokarbon alisiklis. Molekul hidrokarbon alifalik tidak mengandung cincin atom karbon dan semua atom karbon tersusun dalam bentuk rantai lurus atau bercabang.

B2. Sumber dan Distribusi

Sebagai bahan pencemar udara, Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan emisi industri sebesar 10 % berupa HC. Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi. Kondisi mesin yang kurang baik akan menghasilkan HC. Pada umumnya pada pagi hari kadar HC di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan kemudian menurun lagi pada malam hari. Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi dan sebagainya Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi bahan organik pada permukaan tanah, Demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan
dan kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di atmosfir.
B3. Dampak Kesehatan
Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Pengaruh hidrokarbon aromatic pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini.
Jenis Hidrokarbon                      




B4. Pengendalian

B4.1 Langkah Pencegahan
Mencegah pencemaran dari Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi secara berkala dan KIR kendaraan.
c) Memasang filter pada knalpot
kendaraan.
Mencegah pencemaran dari Sumber Tidak Bergerak


a.Memasang scruber pada cerobong asap.
b. Memodifikasi cerobong industri pada proses pembakaran.
B4.1 Langkah Pengendalian
Apabila kadar oksidan dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (235 mg/Nm3 dengan waktu pengukuran 1jam) ,
Maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya:
a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.
2. Penanggulangan
a) Mengganti peralatan yang rusak.
b) Mengatur pertukaran udara didalam ruang, seperti menggunakan exhaust-fan.
c) Bila jatuh korban keracunan maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
· Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.
B5.DAFTAR PUSTAKA




4A DEBU

a. Debu

A1. Sifat Fisik dan Kimia

Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara.
Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber karena emisinya.karena komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel.



Yang dimaksud dengan partikulat adalah berupa butiran-butiran kecil zat padat dan tetes-tetes air. Partikulat-partikulat ini banyak terdapat dalam lapisan atmosfer dan merupakan bahan pencemar udara yang sangat berbahaya. Sejenis partikulat yang umum ditemukan di atmosfer adalah aerosol.
Aerosol adalah kumpulan partikel padat dan cair dengan diameter lebih kecil dari 20µm yang dapat tetap di udara dan mudah bergerak seperti gas. Aerosol di lapisan stratosfer dapat mempengaruhi proses kimiawi seperti konsentrasi ozon. Secara alami aerosol berasal dari letusan gunung berapi, badai debu, hutan, dan vegetasi berupa pollen, spora atau molekul organik. Sedangkan sumber lainnya berasal dari antropogenik/aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan baker fosil dan bahan-bahan lainnya.
Gambar a2. Rokok yang Banyak Mengandung Debu


Gambar a3. Debu-debu yang merupakan Pelarut dalam dunia Industri.

A2. Sumber dan Distribusi
Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu. Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.

A3. Dampak terhadap Kesehatan

Inhalasi merupakan satu-satunya jalan kontaminasi debu yang patut menjadi perhatian dalam hubungan debu dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senyawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb) dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain. Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron.
Pada umunya, ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah buruk apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga. Selain itu, partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan.
Pada umumnya, udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut diperhatikan.
A4. Langkah-langkah Pengendalian
Bagaimana cara pencegahannya?

a) Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ), supaya menarik debu dan partikel pencemar agar tidak mencemari lingkungan.
b) Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong, agar debu tidak banyak bertebaran.
c) Pembersihan ruangan dengan sistim basah. Dengan menerapkan pembersihan dengan system basah, diharpkan debu akan ikut terlarut
d) Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu. Alat penangkap debu harus sesering mungkin diperbaiki adar mampu menyerap debu secara efektif dan efisien
e) Menggunakan masker, dengan menggunakan masker, kita mengurangi dampak pencemaran debu terhadap organ tubuh melalui inhalasi
Bila pencemaran sudah terjadi, maka yang harus dilakukan adalah:
a) Memperbaiki alat yang rusak

4. PARAMETER PENCEMAR UDARA


Posted by DS

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.
Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem. Berikut adalah parameter pencemar udara kriteria beserta dampaknya terhadap kesehatan manusia, ekosistem dan lingkungan, tumbuhan, hewan serta material.

2.SUMBER PENCEMAR ANTROPOGENIK





2.PENCEMAR ANTROPOGENIK




2.1. Sumber Antropogenik
 Sumber antropogenik adalah sumber yang mendominasi pencemaran udara didaerah perkotaan dan industri.Walau tergantung situasi, sumber-sumber emisi dapat digolongkan menjadi :sumber diam (industri) dansumer bergerak (mobil dan truck).Di Indonesia sekarang ini kurang lebih 70% pencemaran udara di sebabkan emisi kendaraan bermotor.  Kendaraan bermotor mengeluarkan. zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak. negative, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb) Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% emisi timbal.
Kendaraan bermotor diam merupakan sumber pencemaran, sementara mobil yang sama yang sedang bergerak akan bertindak seakan-akan merupakan sumber linear.
Pada umumnya emisi-emisi polutan udara disebabkan oleh proses pembakaran bahan bakar seperti unit pembangkit tenaga dan kendaraan bermotor dan sebab-sebab non pembakaran sebagaimana dapat dianggap berasal dari industri kimia.

 Didasarkan pada penggolongan diatas, sumber-sumber pencemaran udara dapat dijelaskan sebagai berikut:

Istilah pencemaran udara sebenarnya menunjuk pada masuknya zat pencemar yangberbentuk gas dan partikel kecil/aerosol ke udara. Sumber pencemarantropogenik adalah istilah untuk pencemaran yang terjadi karena ulah manusia seperti aktivitas transportasi, industri, pembakaran sampah, dan rumah tangga.
Sumber antropogenik hasil pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur sangat mendominasi pada daerah perkotaan. Ini termasuk :
  1. Sumber pokok (pembangkit tenaga listrik, pabrik pembakaran, pertambangan dan pengolahan logam)
  2. Sumber daerah (pemanasan domestik dan distrik)
  3. Sumber bergerak (mesin diesel)
Bahan pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia ini konsentrasinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan yang sudah ada di udara, yang biasanya sudah terjadi secara alamiah, sehingga dapat mengganggu sistem kesetimbangan dinamik di udara dan dengan demikian dapat mengganggu kesejahteraan manusia dan lingkungannya.

Gambar 1. Skema Siklus Karbon
Pada tingkat pencemaran udara yang melebihi ambang batas normal berupa zat-zat CO, SO2, NOx, NH3, logam berat dan debu dalam bentuk aerosol di udara mempunyai dampak negatif bagi lingkungan, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Sejalan dengan pencemaran udara dalam bentuk gas partikulat, juga diamati polusi udara dalam bentuk kebisingan baik dari jalan tol ataupun yang terdapat di industri seperti pembangkit tenaga listrik, dan sebagainya.
Sumber antropogenik ini biasanya berhubungan dengan proses pembakaran berbagai jenis bahan bakar, diantaranya:
  1. Sumber tidak bergerak (stationary source), termasuk asap dari industri manufaktur, hasil pembakaran insinerator, furnace, dan berbagai tipe peralatan pembakaran dengan bahan bakar;
  2. Sumber bergerak (mobile source), termasuk kendaraan bermotor, pesawat, dan/atau kapal laut;
  3. Debu zat kimia maupun partikel-partikel sebagai hasil dari industri pertanian dan perkebunan;
  4. Asap dari penggunaan cat, hair spray, dan jenis pelarut lainnya;
  5. Gas yang dihasilkan dariproses pembuangan akhir di TPA, yang umumnya adalah gas
  6. Metan. Gas metan ini memang tidak bersifat racun (toksik), tetapi gas ini termasuk gas yang mudah menyala (flammable) dan dapat membentuk senyawa yang bersifat eksplosive (mudah meledak) jika bereaksi dengan udara;
  7. Militer, seperti senjata nuklir, gas beracun, senjata biologis, maupun roket.
  8. Pembakaran limbah padat. Biasanya berupa insinerasi dan mempunyai berbagai bentuk, seperti:
    .Insinerasi kotapraja, . Insinerasi di lokasi (on site insineration) dan Pembakaran terbuka.
  9.  Pengolahan bahan kimia, di dalam pabrik, biasanya pengolahan bahan kimia menimbulkan gas residu yang berpotensi menimbulkan pencemaran.
  10. . Pengolahan produk makanan dan pertanian, biasanya menimbulkan zat-zat yang berbahaya, terutama saat proses penambahan pengawet atau pewarna,yang cenderung berisiko mengontaminasi udara.
  11. Pengolahan, logam mineral dan minyak. Pada mayoritas bahan pertambangan, biasanya terkandung zat-zat yang tidak boleh berada di udara menurut standar baku mutu.
  12. . Produksi bubur kertas dan kertas. Proses Pengolahan bubur kertas ini biasanya membuat residu sisa pengolahan yang berupa gas
  13. . Penyimpanan pelarut. Banyak gas-gas yang berbahaya sering disimpan di dalam industry

Gambar 2 .  Animasi berbagai pencemar udara yang ada di sekitar kita
Contoh sumber pencemaran udara buatan: Polusi udara di kota besar

Daerah perkotaan merupakan salah satu sumber pencemaran udara utama, yang sangat besar peranannya dalam masalah pencemaran udara. Kegiatan perkotaan yang meliputi kegiatan sektor-sektor permukiman, transportasi, komersial, industri, pengelolaan limbah padat, dan sektor penunjang lainnya merupakan kegiatan yang potensial dalam merubah kualitas udara perkotaan. Pembangunan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan bermotor, mengakibatkan peningkatan kepadatan lalu lintas dan hasil produksi sampingan, yang merupakan salah satu sumber pencemar udara.
Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.
Aktivitas transportasi darat yang menggunakan kendaraan bermotor merupakan aktivitas pencemaran udara tertinggi. Kendaraan bermotor menghasilkan gas CO, NOx, Hidrokarbon, SOx, dan Tetra Ethyl Lead (timah hitam –Pb) yang ditambahkan ke dalam bensin untuk meningkatkan oktan guna mencegah bunyi ngelitik pada mesin.
Kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi, dalam konteks pencemaran udara dikelompokkan sebagai sumber yang bergerak. Dengan karakteristik yang demikian, penyebaran pencemar yang diemisikan dari sumber-sumber kendaraan bermotor ini akan mempunyai suatu pola penyebaran spasial yang meluas. Faktor perencanaan sistem transportasi akan sangat mempengaruhi penyebaran pencemaran yang diemisikan, mengikuti jalur-jalur transportasi yang direncanakan.
Faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor transportasi terhadap pencemaran udara perkotaan di Indonesia antara lain:
a)       Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (perkembangan terjadi pada proyeksi eksponensial)
b)       Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan yang ada
c)       Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota
d)       Masalah penurunan taraf hidup  akibat pelaksanaan kebijakan pengembangan kota yang ada,  misalnya daerah pemukiman penduduk yang semakin menjauhi pusat kota
e)       Kesamaan waktu aliran lalu lintas
f)        Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor
g)       Faktor perawatan kendaraan
h)       Jenis bahan bakar yang digunakan
i)         Jenis permukaan jalan
j)        Siklus dan pola mengenudi (driving pattern)
Di samping faktor-faktor yang menentukan intensitas emisi pencemar sumber tersebut, faktor penting lainnya adalah faktor potensi dispersi atmosfer daerah perkotaan, yang akan sangat tergantung kepada kondisi dan perilaku meteorologi

 2.2 Sumber Energi
Sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sumber energi. Seperti diketahui penggunaan energi inilah yang terutama menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Hampir semua produk energi konvensional dan rancangan motor bakar yang digunakan dalam sektor transportasi masih menyebabkan dikeluarkannya emisi pencemar ke udara. Penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bensin dalam motor bakar akan selalu mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO (karbon monoksida), THC (total hidro karbon), TSP (debu), NOx (oksida-oksida nitrogen) dan SOx (oksida-oksida sulfur).
Premium yang dibubuhi TEL, akan mengeluarkan timbal. Solar dalam motor diesel akan mengeluarkan beberapa senyawa tambahan di samping senyawa tersebut di atas, yang terutama adalah fraksi-fraksi organik seperti aldehida, PAH (Poli Alifatik Hidrokarbon), yang mempunyai dampak kesehatan yang lebih besar (karsinogenik), dibandingkan dengan senyawa-senyawa lainnya.

2.3 Dampak Pencemaran Udara Oleh Kegiatan Manusia.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penggunaan bahan bakar untuk  kendaraan bermotor dapat mengemisikan zat-zat pencemar seperti CO, NOx, SOx, debu, hidrokarbon juga timbal. Udara yang tercemar oleh zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran dan komposisi kimiawinya. Gangguan tersebut terutama terjadi pada fungsi faal dari organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, atau menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti bronchitis khronis, emfiesma paru, asma bronchial dan bahkan kanker paru-paru. Kadar timbal yang tinggi di udara dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada akhirnya dapat  menyebabkan gangguan kesehatan lainnya seperti anemia, kerusakan ginjal dan lain-lain. Sedangkan keracunan Pb bersifat akumulatif.
Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian, apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
2.3.1 Pengendalian Pencemaran Udara Akibat kendaraan bermotor
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya memang menyebabkan penyakit
pernapasan kronis seperti bronkitis, emfiesma paru, asma bronkial, dan
bahkan kanker paru. Sementara kadar timah hitam yang tinggi dapat mengganggu
pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan
terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti anemia dan kerusakan
ginjal. Selain itu proporsi gas CO yang lebih besar dibanding O2 dalam Hb
menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi
terganggu.
Semua hal tersebut sebenarnya diatasi dengan pengendalian pencemaran udara.
Salah satu pengendalian yang disebut Moestikahadi adalah penggunaan
teknologi pengendalian pencemaran. Upaya teknologi pengendalian ini meliputi
dua hal, yakni pengendalian pada sumbernya dan pengendalian lingkungan.
Pengendalian pada sumber dapat dilakukan dengan pengendalian pencemaran
debu, pengendalian gas, dan pengelolaan buangan kendaraan bermotor.
Pada umumnya, teknologi pengendalian pencemaran akan mengacu pada pembiayaan
dan ini tentu saja terkait dengan keadaan ekonomi. Selain juga terkait
dengan kepedulian masyarakatnya. Ucapan Menteri Negara Lingkungan Hidup,
Sony Keraf, yang menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah
suatu kemewahan karena baru diperlihatkan oleh segelintir orang, patut kita
renungkan bersama. [FR/O-1]
Pengendalian pencemaran akibat kendaraan bermotor akan mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tak langsung, yang dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif.
2.4 Solusi Untuk Mengatasi Polusi Udara Antropogenik.
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya, seperti :
a)       Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.
b)       Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.
c)       Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.
d)       Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering diistilahkan dengan “polisi tidur” justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju.
e)       Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.
f)        Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.


1.      Jurnallingkungan.wordpress.com (diakses tanggal 12 Februari jam 22:45 )
2.      www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (Diakses tanggal 20 Februari jam 13:45)
3.      earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=38975 (Diakses tanggal 20 Februari jam 14:45)



3. GAS RUMAH KACA



















GAS RUMAH KACA

Gas rumah kaca merupakan gas yang dapat menyerap dan memancarkan radiasi dengan gelombang panjang (inframerah) di dalam atmosfer planet. Fenomena yang terjadi biasa disebut dengan “efek rumah kaca”. Hal ini dinamakan demikian karena fenomena dan efek yang dihasilkan sama dengan panel-panel kaca dari rumah kaca. Dari keseluruhan sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi, sekitar 40% dari energi sinar tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer dalam bentuk gelombang panjang inframerah. Sekitar 75% dari energi tersebut diserap oleh uap air, karbon dioksida, gas metana, nitrogen oksida, dan gas rumah kaca lainnya. Proses penyerapan ini merupakan proses molekular yang natural sehingga energi yang diserap oleh gas-gas tersebut dipancarkan kembali ke berbagai arah. Sebagai hasilnya, sebanyak 50% dari energi yang dipancarkan tersebut kembali ke permukaan bumi dan berubah kembali menjadi energi panas. Melalui proses ini, gas rumah kaca menjadi salah satu penyebab dari energi panas yang terdapat pada permukaan bumi dan atmosfer bagian bawah.


Konsentrasi dari karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida naik secara drastic sejak dimulainya Revolusi Industri yang disebabkan oleh kegiatan manusia. Pembakaran bahan bakar fosil, perubahan dari penggunaan lahan, meningkatnya agricultural secara intesif, dan bertambahnya populasi manusia di seluruh dunia menjadi penyebab utama dari meningkatnya konsentrasi dari gas-gas tersebut. Gas-gas rumah kaca lain yang terdapat pada atmosfer bumi diantaranya adalah uap air, ozon, sulfur heksaklorida, dan CFC.





Karbon Dioksida
Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer pada tahun 1700-an adalah sekitar 280 ppm. Konsentrasi dari karbon dioksida yang terdapat pada atmosfer kini adalah sekitar 390 ppm.
Pembakaran Bahan Bakar Fosil


Penyebab utama dari peningkatan konsentrasi karbon dioksida tersebut adalah aktivitas yang berhubungan dengan Revolusi Industri. Emisi dari pembakaran bahan bakar fosil menambahkan sekitar 65% karbon dioksida ke dalam atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil menyumbangkan sekitar 8.7 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Penggunaan bahan bakar batubara sebagai pembangkit listrik menjadi sumber utama, sementara penggunaan bahan bakar minyak dan gas menjadi sumber yang cukup berpengaruh.

Emisi Gas, Dalang Pengurangan Kawasan Hutan



35% dari peningkatan jumlah karbon dioksida yang masuk ke dalam atmosfer berasal dari pengurangan kawasan hutan dan pengalihgunaan padang rumput, kawasan hutan, dan ekosistem hutan menjadi sistem agrikultur yang berkurang produktivitasnya. Pengurangan kawasan hutan meliputi penebangan pohon, pembuatan arang, praktik tebang-dan-bakar, serta degradasi hutan. Pengurangan kawasan hutan dan pengalihgunaan lahan dapat menyebabkan dampak ganda terhadap penambahan jumlah karbon dioksida ke dalam atmosfer. Ekosistem alami dapat menyimpan 20 hingga 100 kali lebih banyak karbon dioksida per unit luas dibandingkan dengan sistem agrikultur. Baik pengurangan kawasan hutan dan pengalihan fungsi dari penggunaan lahan mengurangi jumlah massa tumbuhan atau biomassa yang terdapat pada permukaan bumi. Pengurangan tersebut menyebabkan perpindahan karbon dioksida yang tersimpan di dalam biomassa tersebut ke permukaan bumi melalui dekomposisi dan pembakaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gas Metana


Sejak tahun 1750, konsentrasi gas metana di atmosfer telah meningkat hingga mencapai 150%. Penyebab utama bertambahnya konsentrasi gas metana di dalam atmosfer adalah penanaman padi, peternakan domestik, penyubliman metana klarat beku yang terdapat di dasar laut, rayap, gas yang terbentuk dalam landfill, pengambilan minyak dan gas, serta penambangan batubara.

Gambar xx. Grafik berikut menggambarkan kenaikan konsentrasi metana di atmosfer dari tahun 1008 hingga 2001. Kenaikan dari konsentrasi metana di alam adalah eksponensial. Ekstrapolasi ke dalam tahun-tahun berikutnya akan memiliki kecenderungan untuk terus mengalami kenaikan.
Negara-negara yang menjadi penghasil metana terbanyak adalah Cina, India, Brazil, Mexico, dan Rusia. Negara-negara tersebut diproyeksikan akan tetap menjadi penghasil metana terbanyak hingga tahun 2050. Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa menghasilkan lebih sedikit emisi metana, dan tren dari kedua negara tersebut cenderung datar hingga menurun.

 



Penanaman Padi
Penanaman padi, baik yang alami maupun buatan manusia,  hingga saat ini merupakan sumber dari 20% emisi gas metana yang terdapat di seluruh dunia. Kondisi anaerob yang berhubungan dengan penggenangan air di sawah membentuk gas metana. Jumlah gas metana yang dihasilkan di sawah sulit ditentukan secara akurat. Lebih dari 60% sawah ditemukan di India dan Cina, di mana data ilmiah mengenai tingkat emisi sulit untuk didapatkan. Walaupun demikian, para ilmuwan percaya bahwa kontribusi dari sawah cukup besar karena penanaman padi telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1950. Peningkatan emisi metana dari sawah terjadi akibat meningkatnya kebutuhan pangan dari populasi manusia yang terus meningkat sehingga berdampak pada peningkatan luas lahan yang ditanami oleh padi. 





Emisi Peternakan Ruminansia
Peternakan hewan Ruminansia merupakan sumber metana lain yang cukup pentin. Hewan yang diternakkan melepaskan metana ke dalam lingkungan sebagai hasil dari pencernaan rumput. Sebagai contoh, seekor sapi biasanya menghasilkan sekitar 150 gram metana per hari. Emisi metana tersebut menjadi lebih besar dengan jutaan domba dan kambing yang dimanfaatkan untuk keperluan manusia di seluruh dunia. Beberapa peneliti percaya bahwa penambahan gas metana yang berasal dari hewan ternak telah meningkat lebih dari empat kali lipat sejak satu abad yang lalu.

Landfill

Landfill merupakan sumber metana yang cukup besar. Metana terbentuk di landfill ketika limbah organik diuraikan secara anaerob (tanpa oksigen). Jumlah metana yang dihasilkan bergantung kepada faktor jenis limbah, kadar air yang terkandung dalam limbah, dan desain dan manajemen operasi dari landfill itu sendiri. Emisi gas metana dapat dikurangi dengan membakar gas tersebut unutk digunakan sebagai penghasil energi listrik.
Methane Clathrate


 Tumpukan methane clathrate beku ditemukan di dasar laut dan di dasar permafrost merupakan sumber alami dari gas rumah kaca potensial yang mungkin memberikan efek yang cukup signifikan terhadap iklim bumi. Penelitian menemukan kemungkinan telah dilepaskannya metana dalam jumlah yang cukup banyak yang berasal dari tumpukan methane clathrate yang ditemukan di Kutub Utara. Penelitian lain mengungkapkan bahwa penambahan gas metana ke dalam atmosfer mungkin disebabkan oleh pemanasan global itu sendiri. Peneliti dari NASA, James Hansen, menduga bahwa emisi dari methane clathrate akan terus bertambah karena suhu planet yang semakin hangat mengarah ke situasi yang telah disebutkan.

 

 

 



Nitrogen Oksida





Konsentrasi rata-rata dari nitrogen oksida kini mengalami kenaikan di tingkat 0.2-0.3% per tahun. Peran nitrogen oksida dalam peningkatan efek rumah kaca relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan gas-gas rumah kaca yang telah disebutkan sebelumnya. Nitrogen oksida memiliki peranan terhadap pemupukan buatan di dalam ekosistem. Dalam kasus-kasus ekstrem, pemupukan tersebut dapat menyebabkan kematian hutan, eutrofikasi dari habitat perairan, dan kepunahan spesies. Sumber dari peningkatan nitrogen oksida di dalam atmosfer meliputi pengalihgunaan lahan terbuka, pembakaran bahan bakar fosil,  pembakaran biomassa, dan pemupukan tanah. Sebagian besar dari nitrogen oksida yang masuk ke dalam atmosfer tiap tahunnya berasal dari pembukaan lahan dan pengalihgunaan ekosistem hutan, sabana, dan padang rumput menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Kedua hal tersebut mengurangi jumlah nitrogen yang tersimpan di tumbuhan dan tanah melalui penguraian materi organik. Nitrogen oksida juga dilepaskan ke dalam atmosfer ketika bahan bakar fosil dan biomassa dibakar. Penggunaan pupuk nitrat dan ammoniak merupakan penyebab utama dari nitrogen oksida. Banyaknya nitrogen oksida yang dipelaskan dari proses tersebut sulit untuk diukur. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pupuk menyumbangkan sebanyak 50% nitrogen oksida yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya.
Gambar xx. Grafik berikut menggambarkan kenaikan dari nitrogen oksida yang terdapat di atmosfer dari tahun 1978-2010. Ekstrapolasi ke depannya menunjukkan peningkatan tahunan akan terus berlangsung.


Chlorofluorocarbon


 Chlorofluorocarbon (CFC) merupakan senyawa kimia buatan yang sangat persisten di dalam atmosfer. Pada umumnya senyawa tersebut ribuan kali lebih berpotensi menjadi gas rumah kaca dibandingkan dengan karbon dioksida.  Chlorofluorocarbon merupakan senyawa yang bisa dengan mudah diubah dari bentuk gas menjadi cair atau pun sebaliknya. Oleh karena itu, CFC banyak digunakan di dalam kaleng aerosol, lemari pendingin, dan pendingin ruangan. Protokol Montreal merupakan perjanjian tingkat internasional untuk mengurangi penggunaan senyawa-senyawa yang dapat melubangi lapisan ozon, yang membutuhkan penghentian produksi CFC pada tahun 2020 di negara maju dan 2030 di negara berkembang.

SUMBER :

Author : Dimas Pradhipta 15308o73

1. SUMBER PENCEMAR UDARA ALAMIAH

1.   SUMBER PENCEMAR  ALAMI



A. Sumber Alami (Natural)
Sumber pencemar alami diartikan pencemaran yang dilakukan oleh alam tanpa campur tangan manusia seperti akibat letusan gunung berapi, kebakaran hutan, dekomposisi biotik, debu, dan spora tumbuhan.
1. Akibat Letusan Gunung Berapi
Salah satu gas pencemar yang di hasilkan oleh gunung berapi adalah SOx.
Pola paparan dan durasi sering menunjukkan perbedaan daerah dan musim yang signifikan, bergantung pada sumber dominan dan distribusi ruang, cuaca dan pola penyebaran. Pada konsentrasi tinggi, dimana berlangsung untuk beberapa hari selama musim dingin, bulan musim dingin yang stabil ketika penyebaran terbatas, masih terjadi pada banyak bagian dunia dimana batu bara digunakan untuk tempat pemanasan. Sumber daerah biasanya mendominasi pada beberapa peristiwa, hasil pada pola homogen konsentrasi dan paparan/pembukaan.
Sebaliknya, jarak peristiwa waktu-singkat dari menit ke jam mungkin terjadi sebagai hasil pengasapan, penyebaran atau arah angin dari sumber utama. Hasil pola paparan bervariasi secara substantial, tergantung pada ketinggian emisi, dan kondisi cuaca. Variabel sementara dari konsentrasi ambient juga sering tinggi pada keadaan tertentu, khususnya untuk sumber lokal.













Gambar 1. Foto Timbulan Gas Pada kawah Merapi tahun 2006,
Sumber: www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (diakses tanggaL 20 Februari pukul 13 :45)
Gambar 2 Skematis Pencemaran yang terjadi pada gunung berapi (sumber: jurnallingkungan.wordpress.com, diakses tanggal 15 Februari pukul 23:34)
1.1 Dampak Pencemaran oleh Sox

Gambar 3. Erupsi Shinmo Dake di Kyushu
Sumber : earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=38975 (Diakses tanggal 20 Februari jam 14:45
Sebagian besar pencemaran udara oleh gas belerang oksida (SOx) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama batu bara. Keberadaan uap air dalam udara mengakibatkan terjadinya reaksi pembentukan asam sulfat maupun asam sulfit. Reaksinya adalah sebagai berikut :
SO2 + H2O      ->                  H2SO3
SO3 + H2O      ->                  H2SO4
Apabila asam sulfat maupun asam sulfit tersebut ikut berkondensasi di udara dan kemudian jatuh bersamaan dengan air hujan maka terjadilah pencemaran berupa hujan asam. Hujan asam ini dapat merusak semua jenis tanaman, terkecuali tanaman hutan. Kerusakan hutan ini bisa mengakibatkan pengikisan pada lapisan tanah yang subur.
Walaupun konsentrasi gas SOx yang terdispersi ke lingkungan itu berkadar rendah, namun bila waktu kontak terhadap tanaman cukup lama maka kerusakan tanaman dapat saja terjadi. Konsentrasi sekitar 0,5 ppm sudah dapat merusakan tanaman, terlebih lagi bila melampaui angka tersebut. Jumlah konsentrasi SOx di udara yang mencemari tanaman dapat dilihat dari timbulnya bintik-bintik pada permukaan daun. Kalau waktu paparan lama, maka daun itu akan gugur. Hal ini akan mengakibatkan produktivitas tanaman menurun.
Udara yang telah tercemar SOx bisa merusak sistem pernafasan manusia jika dihirup maupun terhirup. Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkontaminasi.
      1. Lapisan SO2 dan bahaya bagi kesehatan


Gambar 4. Skema Pencemaran Udara Akibat SO2 dari sumber gunung berapi (sumber : www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (diakses tanggal 20 Februari 2011 pukul 14.45).




SO2 mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesehatan yang akut dan kronis. Dalam bentuk gas, SO2 dapat mengiritasi sistem pernapasan, pada paparan yang tinggi (waktu singkat) mempengaruhi fungsi paru-paru.
SO2 merupakan produk sampingan H2SO4 yang mempengaruhi sistem pernapasan. Senyawanya, terdiri dari garam ammonium polinuklir atau organosulfat, mempengaruhi kerja alveoli dan sebagai bahan kimia yang larut, mereka melewati membran selaput lendir pada sistem pernapasan pada makhluk hidup.
Aerosol partikulat dibentuk oleh gas ke pembentukan partikel ditemukan bergabung dengan pengaruh kesehatan yang banyak.
Secara global, senyawa-senyawa belerang dalam jumlah cukup besar masuk ke atmosfer melalui aktivitas manusia sekitar 100 juta metric ton belerang setiap tahunnya, terutama sebagai SO2 dari pembakaran batu bara dan gas buangan pembakaran bensin. Jumlah yang cukup besar dari senyawa belerang juga dihasilkan oleh kegiatan gunung berapi dalam bentuk H2S, proses perombakan bahan organik, dan reduksi sulfat secara biologis. Jumlah yang dihasilkan oleh proses biologis ini dapat mencapai lebih 1 juta metric ton H2S per tahun.
Sebagian dari H2S yang mencapai atmosfer secara cepat diubah menjadi SO2 melaui reaksi :
H2S + 3/2 O2 SO2 + H2O
reaksi bermula dari pelepasan ion hidrogen oleh radikal hidroksil ,
H2S + HO- HS- + H2O
yang kemudian dilanjutkan dengan reaksi berikut ini menghasilkan SO2
HS- + O2 HO- + SO
SO + O2 SO2 + O
Hampir setengahnya dari belerang yang terkandung dalam batu bara dalam bentuk pyrit, FeS2, dan setengahnya lagi dalam bentuk sulfur organik. Sulfur dioksida yang dihasilkan oleh perubahan pyrit melalui reaksi sebagai berikut :
4FeS2 + 11O2 2 Fe2O3 + 8 SO2
Pada dasarnya, semua sulfur yang memasuki atmosfer dirubah dalam bentuk SO2 dan hanya 1% atau 2% saja sebagai SO2
Walaupun SO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia hanya merupakan bagian kecil dari SO2 yang ada diatmosfer, tetapi pengaruhnya sangat serius karena SO2 langsung dapat meracuni makhluk disekitarnya. SO2 yang ada di atmosfer menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan peningkatan sekresi mucus (lender). Orang yang mempunyai pernapasan lemah sangat peka terhadap kandungan SO2 yang tinggi diatmosfer. Dengan konsentrasi 500 ppm , SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia.
Pencemaran yang cukup tinggi oleh SO2 telah menimbulkan malapetaka yang cukup serius. Seperti yang terjadi di lembah Nerse Belgia pada 1930, tingkat kandungan SO2 diudara mencapai 38 ppm dan menyebabkan toksisitas akut. Selama periode ini menyebabkan kematian 60 orang dan sejumlah ternak sapi.
Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Adanya gas ini pada konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun. pinggiran daun dan daerah diantara tulang-tulang daun rusak. Secara kronis SO2 menyebabkan terjadinya khlorosis. Kerusakan tanaman iniakan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara. SO2 diudara akan berubah menjadi asam sulfat. Oleh karena itu, didaerah dengan adanya pencemaran oleh SO2 yang cukup tinggi, tanaman akan rusak oleh aerosol asam sulfat.
Kerusakan juga dialami oleh bangunan yang bahan-bahannya seperti batu kapur, batu pualam, dolomit akan dirusak oleh SO2 dari udara. Efek dari kerusakan ini akan tampak pada penampilannya, integritas struktur, dan umur dari gedung tersebut.








1.2 Pencemaran Udara Akibat Keberadaan Gunung Berapi di Indonesia.


Gambar 5. Gas-gas yang Muncul di Kawah Gunung Bromo
Sumber: www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (Diakses tanggal 20 Februari jam 13:45)
Indonesia merupakan negara di dunia yang paling banyak memiliki gunung berapi (sekitar 137 buah dan 30% masih dinyatakan aktif). Oleh sebab itu Indonesia mudah mengalami pencemaran secara alami. Selain itu adanya kebakaran hutan akibat musim kemarau panjang ataupun pembakaran hutan yang disengaja untuk memenuhi kebutuhan seperti terjadi di Kalimantan dan di Sumatera dalam tahun 1997 dan tahun 1998 menyebabkan terjadinya pencemaran yang cukup menghawatirkan, karena asap tebal hasil kebakaran tersebut menyeberang ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Asap tebal dari hasil kebakaran hutan ini sangat merugikan, baik dalam segi ekonomi, transportasi (udara, darat dan laut) dan kesehatan. Akibat asap tebal tersebut menyebabkan terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan akan terjadi tabrakan.
Selain itu asap itu merugikan kesehatan yaitu menyebabkan sakit mata, radang tenggorokan, radang paru-paru dan sakit kulit. Pencemaran udara lainnya berasal dari limbah berupa asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kedaraan bermotor dan limbah asap dari industri.












Contoh dari komposisi gas vulkanik, dalam volume persen konsentrasi
(from Symonds et. al., 1994)(dari Symonds et. al., 1994)
VolcanoVolcano
Gaya tektonik
Temperature Suhu
Kilauea SummitKilauea Summit
Hot Spot Hot Spot
/titik panas
1170°C 1170 ° C
Erta` Ale`Erta Ale
Lempengan Divergen
1130°C 1130 ° C
MomotomboMomotombo
Lempengan Konvergen
820°C 820 ° C
H 2 0 H 2 037.1 37,177.2 77,297.1 97,1
C0 2 C0 248.9 48,911.3 11,31.44 1,44
S0 2 S0 211.8 11,88.34 8,340.50 0,50
H 2 H 20.49 0,491.39 1,390.70 0,70
CO CO1.51 1,510.44 0,440.01 0,01
H 2 S H 2 S0.04 0,040.68 0,680.23 0,23
HCl HCl0.08 0,080.42 0,422.89 2,89
HF HF— —— —0.26 0,26
Gas vulkanik mempunyai potensi bahaya terbesar bagi manusia, hewan, pertanian, yakni diantaranya properti belerang dioksida, karbon dioksida, dan hidrogen fluoride.Secara lokal, gas sulfur dioksida dapat mengakibatkan hujan asam dan polusi udara melawan arah angin dari gunung berapi. Secara global, letusan besar yang mengeluarkan volume belerang aerosol ke stratosfer dapat mengakibatkan penurunan temperatur permukaan dan mempromosikan penipisan lapisan ozon Bumi. Karena gas karbon dioksida lebih berat daripada udara, gas dapat mengalir ke dalam daerah dataran rendah dan mengumpulkan di dalam tanah. Konsentrasi gas karbon dioksida di area ini dapat mematikan orang-orang, hewan, dan vegetasi. Beberapa letusan juga mengeluarkan senyawa fluor yang cukup untuk terdeformasi atau membunuh binatang yang merumput di vegetasi dilapisi dengan abu gunung berapi. Senyawa fluor cenderung menjadi terkonsentrasi pada abu halus partikel, yang dapat dicerna oleh hewan.
  1. Pencemaran Akibat Kebakaran Hutan.


Kebakaran hutan merupakan proses yang paling dominan dalam kemampuannya menimbulkan polutan di samping juga proses atrisi dan penguapan. Karena dari pembakaran itulah akan meningkatkan bahan berupa substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai jumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi dan memberikan efek terhadap manusia, hewan, vegetasi dan material.
Atas dasar hal tersebut, jadi jelas-jelas bahwa akibat adanya kebakaran hutan akan menghasilkan polusi udara. Ada beberapa bahan polutan dari pembakaran yang dapat mencemari udara, diantaranya adalah bahan polutan primer, seperti: hidrokarbon dan karbon oksida, karbon dioksida, senyawa sulphur oksida, senyawa nitrogen oksida dan nitrogen dioksida. Adapun polutan berbentuk partikel adalah asap berupa partikel karbon yang sangat halus bercampur dengan debu hasil dari proses pemecahan suatu bahan.


          Gambar 6. Kebakaran Hutan
Sumber ; (jurnallingkungan wordpress.com, diakses tanggal 13 Februari jam 19:02)
Kenyataan ini, sadar ataupun tidak, yang jelas adanya bahan polutan dari pembakaran berupa gas maupun partikel yang berada di atmosfer akan menyebabkan kelainan pada tubuh manusia. Kebakaran hutan memiliki beberapa dampak antara lain,
  1. Dampak terhadap sosial, budaya dan ekonomi, di antaranya berupa: hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat di dan sekitar hutan; terganggunya aktivitas sehari-hari; peningkatan jumlah hama; terganggunya kesehatan; dan produktivitas menurun.
  2. Dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan, diantaranya berupa: hilangnya sejumlah spesies; ancaman erosi; perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan; penurunan kualitas air; terganggunya ekosistem terumbu karang; menurunnya devisa negara; dan sedimentasi di aliran sungai.
  3. Dampak terhadap hubungan antar negara. Asap kebakaran tersebut tidak mengenal batas administratif, sehingga dengan terbawa angin sebagian negara tetangga ikut menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran di Indonesia. Akibatnya hubungan antara negara menjadi terganggu.
  4. Dampak terhadap perhubungan dan pariwisata. Tebalnya asap mengganggu transportasi udara. Sering sekali terdengar sebuah pesawat tidak bisa turun di satu tempat karena tebalnya asap yang melingkungi tempat tersebut. Hal ini, tentu akan mengganggu bisnis pariwisata karena keengganan orang untuk berada di tempat yang dipenuhi asap.
  5. Partikel yang dihasilkan oleh kebakaran akan mengganggu pernafasan, dan pajanan terhadap konsentrasi tinggi partikel dapat mengakibatkan batuk terus-menerus, berdahak, bersin dan kesulitan bernafas. Dampak asap dari kebakaran hutan berkisar dari iritasi mata dan saluran pernafasan sampai kepada gangguan serius, termasuk berkurangnya fungsi paru-paru, bronchitis, bertambah buruknya asma dan kematian dini.


Gambar 7 dampak kebakaran hutan yang mengancam sejumlah species.
Sumber : Jurnallingkungan.wordpress.com (tanggal 16 Februari pukul 21:30)


GLOSSARY/ DAFTAR PUSTAKA

1.      Jurnallingkungan.wordpress.com (diakses tanggal 12 Februari jam 22:45 )
2.      www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (Diakses tanggal 20 Februari jam 13:45)
3.      earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=38975 (Diakses tanggal 20 Februari jam 14:45)