Senin, 21 Februari 2011

4c. Carbon




C. Karbon Monoksida

C1. Sifat Fisik dan Kimia
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, titik didih -192º C, tidak larut dalam air dan beratnya 96,5% dari berat udara. Pencemaran karbonmonoksida berasal dari sumber alami seperti: kebakaran hutan, oksidasi dari terpene yang diemisikan hutan ke atmosfer, produksi CO oleh vegetasi dan kehidupan di laut. Sumber CO lainnya berasal dari sumber antropogenik yaitu hasil pembakaran bahan bakar fosil yang memberikan sumbangan 78,5% dari emisi total. Pencemaran dari sumber antropogenik 55,3% berasal dari pembakaran bensin pada otomotif.

Gambar C1 Siklus Karbon
.
C2. Sumber dan Distribusi

Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia. Karbon monoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam. Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin.
Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Didalam laporan WHO (1992) dinyatakan paling tidak 90% dari CO diudara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga para perokok dapat mengontaminasi dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya. Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas ruang. Dalam beberapa penelitian ditemukan kadar CO yang cukup tinggi didalam kendaraan sedan maupun bus. Kadar CO diperkotaan cukup bervariasi tergantung dari kepadatan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin dan umumnya ditemukan kadar maksimum CO yang bersamaan dengan jam-jam kegiatan manusia pada pagi dan malam hari. Selain cuaca, variasi dari kadar CO juga dipengaruhi oleh topografi jalan dan bangunan disekitarnya.
Kontaminasi CO dari udara ambien dapat direfleksikan dalam bentuk kadar karboksi-haemoglobin (HbCO) dalam darah yang terbentuk dengan sangat pelahan karena butuh waktu 4-12 jam untuk tercapainya keseimbangan antara kadar CO diudara dan HbCO dalam darah. Oleh karena itu kadar CO didalam lingkungan, cenderung dinyatakan sebagai kadar rata-rata dalam 8 jam pemajanan Data CO yang dinyatakan dalam rata-rata setiap 8 jam pengukuran sepajang hari (moving 8 hour average concentration) adalah lebih baik dibandingkan dari data CO yang dinyatakan dalam rata-rata dari 3 kali pengukuran pada periode waktu 8 jam yang berbeda dalam sehari. Perhitungan tersebut akan lebih mendekati gambaran dari respons tubuh manusia tyerhadap keracunan CO dari udara.
 Karbon monoksida yang bersumber dari dalam ruang (indoor) terutama berasal dari alat pemanas ruang yang menggunakan bahan bakar fosil dan tungku masak. Kadar nya akan lebih tinggi bila ruangan tempat alat tersebut bekerja, tidak memadai ventilasinya. Namun umunnya kontaminasi yang berasal dari dalam ruangan kadarnya lebih kecil dibandingkan dari kadar CO hasil pemajanan asap rokok. Beberapa Individu juga dapat terpajan oleh CO karena lingkungan kerjanya. Kelompok masyarakat yang paling berisiko oleh CO termasuk polisi lalu lintas atau tukang pakir, pekerja bengkel mobil, petugas industri logam, industri bahan bakar bensin, industri gas kimia dan pemadam kebakaran. Kontaminasi Co dari lingkungan kerja seperti yang tersebut diatas perlu mendapat perhatian. Misalnya kadar CO di bengkel kendaraan bermotor ditemukan mencapai setinggi 600 mg/m3 dan didalam darah para pekerja bengkel tersebut bisa mengandung HbCO sampai lima kali lebih tinggi dari kadar nomal. Para petugas yang bekerja dijalan raya diketahui mengandung HbCO dengan kadar 4–7,6% (porokok) dan 1,4–3,8% (bukan perokok) selama sehari bekarja. Sebaliknya kadar HbCO pada masyarakat umum jarang yang melampaui 1% walaupun studi yang dilakukan di 18 kota besar di Amerika Utara menunjukan bahwa 45 % dari masyarakat bukan perokok yang terpajan oleh CO udara, di dalam darahnya terkandung HbCO melampaui 1,5%. Perlu juga diketahui bahwa manusia sendiri dapat memproduksi CO akibat proses metabolismenya yang normal. Produksi CO didalam tubuh sendiri ini (endogenous) bisa sekitar 0,1+1% dari total HbCO dalam darah.


 Gambar c2. Hasil Buangan Emisi Kendaraan Bermotor

C3. Dampak terhadap Kesehatan
i) Dampak terhadap manusia

Karakteristik biologi yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengakut oksigen keseluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah. Dampak dari CO bervasiasi tergangtung dari status kesehatan seseorang pada saat terpajan .Pada beberapa orang yang berbadan gemuk dapat mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya mencapai 40% dalam waktu singkat. Tetapi seseorang yang menderita sakit jantung atau paru-paru akan menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam darahnya sebesar 5–10%. Pengaruh CO kadar tinggi terhadap sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskular telah banyak diketahui. Namun respon dari masyarakat berbadan sehat terhadap kontaminasi CO kadar rendah dan dalam jangka waktu panjang, masih sulit untuk dideteksi
Misalnya kinerja para petugas keamanan industri, yang sebaiknya mempunyai kemampuan untuk mendeteksi adanya perubahan kecil dalam lingkungannya yang terjadi pada saat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya dan membutuhkan kewaspadaan tinggi dan terus menerus, dapat terganggu/ terhambat pada kadar HbCO yang berada dibawah 10% dan bahkan sampai 5% (hal ini secara kasar ekivalen dengan kadar CO di udara masing-masing sebesar 80 dan 35 mg/m3)
 Pengaruh ini sudah  terlihat pada perokok, karena kemungkinan sudah terbiasa terpajan dengan kadar yang sama dari asap rokok. Beberapa studi yang dilakukan terhadap sejumlah sukarelawan berbadan sehat yang melakukan latihan berat (studi untuk melihat penyerapan oksigen maksimal) menunjukkan bahwa kesadaran hilang pada kadar HbCO 50% dengan latihan yang lebih ringan, kesadaran hilang pada HbCo 70% selama 5-60 menit. Gangguan tidak dirasakan pada HbCO 33%, tetapi denyut jantung meningkat cepat dan tidak proporsional.
 Studi dalam jangka waktu yang lebih panjang terhadap pekerja yang bekerja selama 4 jam dengan kadar HbCO 5-6% menunjukkan pengaruh yang serupa terhadap denyut jantung, tetapi dengan hasil yang sedikit berbeda. Hasil studi diatas menunjukkan bahwa paling sedikit untuk para bukan perokok, ternyata ada hubungan yang linier antara HbCO dan menurunnya kapasitas maksimum oksigen. Walaupun kadar CO yang tinggi dapat menyebabkan perubahan tekanan darah, me
ningkatkan denyut jantung, ritme jantung menjadi abnormal gagal jantung, dan kerusakan pembuluh darah periferal, tidak banyak didapatkan data tentang pengaruh pemajanan CO kadar rendah terhadap sistim kardiovaskular. Hubungan yang telah diketahui tentang merokok dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner menunjukkan bahwa CO kemungkinan mempunyai peran dalam memicu timbulnya penyakit tersebut (perokok berat tidak jarang mengandung kadar HbCO sampai 15 %). Namun tidak cukup bukti yang menyatakan bahwa karbon monoksida menyebabkan penyakit jantung atau paru-paru, tetapi jelas bahwa CO mampu untuk mengganggu transpor oksigen ke seluruh tubuh yang dapat berakibat serius pada seseorang yang telah menderita sakit jantung atau paru-paru. Studi epidemiologi tentang kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung dan kadar CO di udara yang dibagi berdasarkan wilayah, sangat sulit untuk ditafsirkan. Namun dada terasa sakit pada saat melakukan gerakan fisik, terlihat jelas akan timbul pada pasien yang terpajan CO dengan kadar 60 mg/m3, yang menghasilkan kadar HbCO mendekati 5%. Walaupun wanita hamil dan janin yang dikandungnya akan menghasilkan CO dari dalam tubuh (endogenous) dengan kadar yang lebih tinggi, pajanan tambahan dari luar dapat mengurangi fungsi oksigenasi jaringan dan plasental, yang menyebabkan bayi dengan berat badan rendah. Kondisi seperti ini menjelaskan mengapa wanita merokok melahirkan bayi dengan berat badan lebih rendah dari normal. Masih ada dua aspek lain dari pengaruh CO terhadap kesehatan yang perlu dicatat. Pertama, tampaknya binatang percobaan dapat beradaptasi terhadap pemajanan CO karena mampu mentolerir dengan mudah pemajanan akut pada kadar tinggi, walaupun masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Kedua, dalam kaitannya dengan CO di lingkungan kerja yang dapat menggangggu pertubuhan janin pada pekerja wanita, adalah kenyataan bahwa paling sedikit satu jenis senyawa hidrokarbon-halogen yaitu metilen khlorida (dikhlorometan), dapat menyebabkan meningkatnya kadar HbCO karena ada metobolisme di dalam tubuh setelah absorpsi terjadi. Karena senyawa diatas termasuk kelompok pelarut (Sollvent) yang banyak digunakan dalam industri untuk menggantikan karbon tetrakhlorida yang beracun, maka keamanan lingkungan kerja mereka perlu ditinjau lebih lanjut.
C3.2 Efek terhadap lingkungan :Meningkatkan efek rumah kaca.
 Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO, CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global. Pemanasan global sendiri akan berakibat pada pencairan es di kutub, perubahan iklim regional dan global, perubahan siklus hidup flora dan fauna.
C4. Pengendalian

c.4.1 Pengendalian  dari Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala.
c) Memasang filter pada knalpot.
c.4.2 Pengendalian pencemaran udara dari Sumber Tidak Bergerak, antara lain adalah:
a) Memasang scruber pada cerobong asap.
b) Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
c) Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar CO rendah.
c.4.3 Penanggulangan dampak pencemaran terhadap Manusia
Apabila kadar CO dalam udara ambien telah melebihi baku mutu ( 10.000 ug/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam ) maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya:

a) Menggunakan alat pelindung diri ( APD ) seperti masker gas.
b) Menutup / menghindari tempat-tempat yang diduga mengandung CO seperti sumur tua , Goa , dan s
segala macam tempat dimana pelarut yang mengandung CO disimpan.

c.4.4. Penanggulangan terhadap Dampak Lingkungan

a) Mengatur pertukaran udara didalam ruang seperti mengunakan exhaust-fan.
b) Bila terjadi korban keracunan maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan
· Kirim segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat

4B.HIDROKARBON



B1. Karakteristik Kimia dan Fisik

Struktur Hidrokarban (HC) terdiri dari elemen hidrogen dan korbon dan sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4 atom karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan padatan. HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu.
Berdasarkan struktur molekulnya, hidrokarbon dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu hidrokarban alifalik, hidrokarbon aromatik dan hidrokarbon alisiklis. Molekul hidrokarbon alifalik tidak mengandung cincin atom karbon dan semua atom karbon tersusun dalam bentuk rantai lurus atau bercabang.

B2. Sumber dan Distribusi

Sebagai bahan pencemar udara, Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan polutan primer. Kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen, zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan emisi industri sebesar 10 % berupa HC. Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi. Kondisi mesin yang kurang baik akan menghasilkan HC. Pada umumnya pada pagi hari kadar HC di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan kemudian menurun lagi pada malam hari. Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi dan sebagainya Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi bahan organik pada permukaan tanah, Demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan
dan kegiatan manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di atmosfir.
B3. Dampak Kesehatan
Hidrokarbon diudara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Pengaruh hidrokarbon aromatic pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini.
Jenis Hidrokarbon                      




B4. Pengendalian

B4.1 Langkah Pencegahan
Mencegah pencemaran dari Sumber Bergerak
a) Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b) Melakukan pengujian emisi secara berkala dan KIR kendaraan.
c) Memasang filter pada knalpot
kendaraan.
Mencegah pencemaran dari Sumber Tidak Bergerak


a.Memasang scruber pada cerobong asap.
b. Memodifikasi cerobong industri pada proses pembakaran.
B4.1 Langkah Pengendalian
Apabila kadar oksidan dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (235 mg/Nm3 dengan waktu pengukuran 1jam) ,
Maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya:
a) Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas di luar rumah.
2. Penanggulangan
a) Mengganti peralatan yang rusak.
b) Mengatur pertukaran udara didalam ruang, seperti menggunakan exhaust-fan.
c) Bila jatuh korban keracunan maka lakukan :
· Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
· Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.
B5.DAFTAR PUSTAKA




4A DEBU

a. Debu

A1. Sifat Fisik dan Kimia

Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara.
Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber karena emisinya.karena komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel.



Yang dimaksud dengan partikulat adalah berupa butiran-butiran kecil zat padat dan tetes-tetes air. Partikulat-partikulat ini banyak terdapat dalam lapisan atmosfer dan merupakan bahan pencemar udara yang sangat berbahaya. Sejenis partikulat yang umum ditemukan di atmosfer adalah aerosol.
Aerosol adalah kumpulan partikel padat dan cair dengan diameter lebih kecil dari 20µm yang dapat tetap di udara dan mudah bergerak seperti gas. Aerosol di lapisan stratosfer dapat mempengaruhi proses kimiawi seperti konsentrasi ozon. Secara alami aerosol berasal dari letusan gunung berapi, badai debu, hutan, dan vegetasi berupa pollen, spora atau molekul organik. Sedangkan sumber lainnya berasal dari antropogenik/aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan baker fosil dan bahan-bahan lainnya.
Gambar a2. Rokok yang Banyak Mengandung Debu


Gambar a3. Debu-debu yang merupakan Pelarut dalam dunia Industri.

A2. Sumber dan Distribusi
Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik. Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu. Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.

A3. Dampak terhadap Kesehatan

Inhalasi merupakan satu-satunya jalan kontaminasi debu yang patut menjadi perhatian dalam hubungan debu dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senyawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb) dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain. Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron.
Pada umunya, ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah buruk apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga. Selain itu, partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan.
Pada umumnya, udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut diperhatikan.
A4. Langkah-langkah Pengendalian
Bagaimana cara pencegahannya?

a) Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ), supaya menarik debu dan partikel pencemar agar tidak mencemari lingkungan.
b) Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong, agar debu tidak banyak bertebaran.
c) Pembersihan ruangan dengan sistim basah. Dengan menerapkan pembersihan dengan system basah, diharpkan debu akan ikut terlarut
d) Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu. Alat penangkap debu harus sesering mungkin diperbaiki adar mampu menyerap debu secara efektif dan efisien
e) Menggunakan masker, dengan menggunakan masker, kita mengurangi dampak pencemaran debu terhadap organ tubuh melalui inhalasi
Bila pencemaran sudah terjadi, maka yang harus dilakukan adalah:
a) Memperbaiki alat yang rusak

4. PARAMETER PENCEMAR UDARA


Posted by DS

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.
Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem. Berikut adalah parameter pencemar udara kriteria beserta dampaknya terhadap kesehatan manusia, ekosistem dan lingkungan, tumbuhan, hewan serta material.

2.SUMBER PENCEMAR ANTROPOGENIK





2.PENCEMAR ANTROPOGENIK




2.1. Sumber Antropogenik
 Sumber antropogenik adalah sumber yang mendominasi pencemaran udara didaerah perkotaan dan industri.Walau tergantung situasi, sumber-sumber emisi dapat digolongkan menjadi :sumber diam (industri) dansumer bergerak (mobil dan truck).Di Indonesia sekarang ini kurang lebih 70% pencemaran udara di sebabkan emisi kendaraan bermotor.  Kendaraan bermotor mengeluarkan. zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak. negative, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb) Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% emisi timbal.
Kendaraan bermotor diam merupakan sumber pencemaran, sementara mobil yang sama yang sedang bergerak akan bertindak seakan-akan merupakan sumber linear.
Pada umumnya emisi-emisi polutan udara disebabkan oleh proses pembakaran bahan bakar seperti unit pembangkit tenaga dan kendaraan bermotor dan sebab-sebab non pembakaran sebagaimana dapat dianggap berasal dari industri kimia.

 Didasarkan pada penggolongan diatas, sumber-sumber pencemaran udara dapat dijelaskan sebagai berikut:

Istilah pencemaran udara sebenarnya menunjuk pada masuknya zat pencemar yangberbentuk gas dan partikel kecil/aerosol ke udara. Sumber pencemarantropogenik adalah istilah untuk pencemaran yang terjadi karena ulah manusia seperti aktivitas transportasi, industri, pembakaran sampah, dan rumah tangga.
Sumber antropogenik hasil pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur sangat mendominasi pada daerah perkotaan. Ini termasuk :
  1. Sumber pokok (pembangkit tenaga listrik, pabrik pembakaran, pertambangan dan pengolahan logam)
  2. Sumber daerah (pemanasan domestik dan distrik)
  3. Sumber bergerak (mesin diesel)
Bahan pencemar yang dihasilkan oleh kegiatan manusia ini konsentrasinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan yang sudah ada di udara, yang biasanya sudah terjadi secara alamiah, sehingga dapat mengganggu sistem kesetimbangan dinamik di udara dan dengan demikian dapat mengganggu kesejahteraan manusia dan lingkungannya.

Gambar 1. Skema Siklus Karbon
Pada tingkat pencemaran udara yang melebihi ambang batas normal berupa zat-zat CO, SO2, NOx, NH3, logam berat dan debu dalam bentuk aerosol di udara mempunyai dampak negatif bagi lingkungan, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Sejalan dengan pencemaran udara dalam bentuk gas partikulat, juga diamati polusi udara dalam bentuk kebisingan baik dari jalan tol ataupun yang terdapat di industri seperti pembangkit tenaga listrik, dan sebagainya.
Sumber antropogenik ini biasanya berhubungan dengan proses pembakaran berbagai jenis bahan bakar, diantaranya:
  1. Sumber tidak bergerak (stationary source), termasuk asap dari industri manufaktur, hasil pembakaran insinerator, furnace, dan berbagai tipe peralatan pembakaran dengan bahan bakar;
  2. Sumber bergerak (mobile source), termasuk kendaraan bermotor, pesawat, dan/atau kapal laut;
  3. Debu zat kimia maupun partikel-partikel sebagai hasil dari industri pertanian dan perkebunan;
  4. Asap dari penggunaan cat, hair spray, dan jenis pelarut lainnya;
  5. Gas yang dihasilkan dariproses pembuangan akhir di TPA, yang umumnya adalah gas
  6. Metan. Gas metan ini memang tidak bersifat racun (toksik), tetapi gas ini termasuk gas yang mudah menyala (flammable) dan dapat membentuk senyawa yang bersifat eksplosive (mudah meledak) jika bereaksi dengan udara;
  7. Militer, seperti senjata nuklir, gas beracun, senjata biologis, maupun roket.
  8. Pembakaran limbah padat. Biasanya berupa insinerasi dan mempunyai berbagai bentuk, seperti:
    .Insinerasi kotapraja, . Insinerasi di lokasi (on site insineration) dan Pembakaran terbuka.
  9.  Pengolahan bahan kimia, di dalam pabrik, biasanya pengolahan bahan kimia menimbulkan gas residu yang berpotensi menimbulkan pencemaran.
  10. . Pengolahan produk makanan dan pertanian, biasanya menimbulkan zat-zat yang berbahaya, terutama saat proses penambahan pengawet atau pewarna,yang cenderung berisiko mengontaminasi udara.
  11. Pengolahan, logam mineral dan minyak. Pada mayoritas bahan pertambangan, biasanya terkandung zat-zat yang tidak boleh berada di udara menurut standar baku mutu.
  12. . Produksi bubur kertas dan kertas. Proses Pengolahan bubur kertas ini biasanya membuat residu sisa pengolahan yang berupa gas
  13. . Penyimpanan pelarut. Banyak gas-gas yang berbahaya sering disimpan di dalam industry

Gambar 2 .  Animasi berbagai pencemar udara yang ada di sekitar kita
Contoh sumber pencemaran udara buatan: Polusi udara di kota besar

Daerah perkotaan merupakan salah satu sumber pencemaran udara utama, yang sangat besar peranannya dalam masalah pencemaran udara. Kegiatan perkotaan yang meliputi kegiatan sektor-sektor permukiman, transportasi, komersial, industri, pengelolaan limbah padat, dan sektor penunjang lainnya merupakan kegiatan yang potensial dalam merubah kualitas udara perkotaan. Pembangunan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan bermotor, mengakibatkan peningkatan kepadatan lalu lintas dan hasil produksi sampingan, yang merupakan salah satu sumber pencemar udara.
Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibandingkan dengan sektor lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.
Aktivitas transportasi darat yang menggunakan kendaraan bermotor merupakan aktivitas pencemaran udara tertinggi. Kendaraan bermotor menghasilkan gas CO, NOx, Hidrokarbon, SOx, dan Tetra Ethyl Lead (timah hitam –Pb) yang ditambahkan ke dalam bensin untuk meningkatkan oktan guna mencegah bunyi ngelitik pada mesin.
Kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi, dalam konteks pencemaran udara dikelompokkan sebagai sumber yang bergerak. Dengan karakteristik yang demikian, penyebaran pencemar yang diemisikan dari sumber-sumber kendaraan bermotor ini akan mempunyai suatu pola penyebaran spasial yang meluas. Faktor perencanaan sistem transportasi akan sangat mempengaruhi penyebaran pencemaran yang diemisikan, mengikuti jalur-jalur transportasi yang direncanakan.
Faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor transportasi terhadap pencemaran udara perkotaan di Indonesia antara lain:
a)       Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (perkembangan terjadi pada proyeksi eksponensial)
b)       Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan yang ada
c)       Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota
d)       Masalah penurunan taraf hidup  akibat pelaksanaan kebijakan pengembangan kota yang ada,  misalnya daerah pemukiman penduduk yang semakin menjauhi pusat kota
e)       Kesamaan waktu aliran lalu lintas
f)        Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor
g)       Faktor perawatan kendaraan
h)       Jenis bahan bakar yang digunakan
i)         Jenis permukaan jalan
j)        Siklus dan pola mengenudi (driving pattern)
Di samping faktor-faktor yang menentukan intensitas emisi pencemar sumber tersebut, faktor penting lainnya adalah faktor potensi dispersi atmosfer daerah perkotaan, yang akan sangat tergantung kepada kondisi dan perilaku meteorologi

 2.2 Sumber Energi
Sektor transportasi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap sumber energi. Seperti diketahui penggunaan energi inilah yang terutama menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Hampir semua produk energi konvensional dan rancangan motor bakar yang digunakan dalam sektor transportasi masih menyebabkan dikeluarkannya emisi pencemar ke udara. Penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bensin dalam motor bakar akan selalu mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO (karbon monoksida), THC (total hidro karbon), TSP (debu), NOx (oksida-oksida nitrogen) dan SOx (oksida-oksida sulfur).
Premium yang dibubuhi TEL, akan mengeluarkan timbal. Solar dalam motor diesel akan mengeluarkan beberapa senyawa tambahan di samping senyawa tersebut di atas, yang terutama adalah fraksi-fraksi organik seperti aldehida, PAH (Poli Alifatik Hidrokarbon), yang mempunyai dampak kesehatan yang lebih besar (karsinogenik), dibandingkan dengan senyawa-senyawa lainnya.

2.3 Dampak Pencemaran Udara Oleh Kegiatan Manusia.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa penggunaan bahan bakar untuk  kendaraan bermotor dapat mengemisikan zat-zat pencemar seperti CO, NOx, SOx, debu, hidrokarbon juga timbal. Udara yang tercemar oleh zat-zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran dan komposisi kimiawinya. Gangguan tersebut terutama terjadi pada fungsi faal dari organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, atau menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti bronchitis khronis, emfiesma paru, asma bronchial dan bahkan kanker paru-paru. Kadar timbal yang tinggi di udara dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada akhirnya dapat  menyebabkan gangguan kesehatan lainnya seperti anemia, kerusakan ginjal dan lain-lain. Sedangkan keracunan Pb bersifat akumulatif.
Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian, apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
2.3.1 Pengendalian Pencemaran Udara Akibat kendaraan bermotor
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya memang menyebabkan penyakit
pernapasan kronis seperti bronkitis, emfiesma paru, asma bronkial, dan
bahkan kanker paru. Sementara kadar timah hitam yang tinggi dapat mengganggu
pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan
terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti anemia dan kerusakan
ginjal. Selain itu proporsi gas CO yang lebih besar dibanding O2 dalam Hb
menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi
terganggu.
Semua hal tersebut sebenarnya diatasi dengan pengendalian pencemaran udara.
Salah satu pengendalian yang disebut Moestikahadi adalah penggunaan
teknologi pengendalian pencemaran. Upaya teknologi pengendalian ini meliputi
dua hal, yakni pengendalian pada sumbernya dan pengendalian lingkungan.
Pengendalian pada sumber dapat dilakukan dengan pengendalian pencemaran
debu, pengendalian gas, dan pengelolaan buangan kendaraan bermotor.
Pada umumnya, teknologi pengendalian pencemaran akan mengacu pada pembiayaan
dan ini tentu saja terkait dengan keadaan ekonomi. Selain juga terkait
dengan kepedulian masyarakatnya. Ucapan Menteri Negara Lingkungan Hidup,
Sony Keraf, yang menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah
suatu kemewahan karena baru diperlihatkan oleh segelintir orang, patut kita
renungkan bersama. [FR/O-1]
Pengendalian pencemaran akibat kendaraan bermotor akan mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tak langsung, yang dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif.
2.4 Solusi Untuk Mengatasi Polusi Udara Antropogenik.
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain. Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta kematian yang diakibatkan karenanya, seperti :
a)       Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi, sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api, diperbanyak.
b)       Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi polutan udara.
c)       Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.
d)       Pemberian penghambat laju kendaraan di permukiman atau gang-gang yang sering diistilahkan dengan “polisi tidur” justru merupakan biang polusi. Kendaraan bermotor akan memperlambat laju.
e)       Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun pribadi meskipun secara uji petik (spot check). Perlu dipikirkan dan dipertimbangkan adanya kewenangan tambahan bagi polisi lalu lintas untuk melakukan uji emisi di samping memeriksa surat-surat dan kelengkapan kendaraan yang lain.
f)        Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.


1.      Jurnallingkungan.wordpress.com (diakses tanggal 12 Februari jam 22:45 )
2.      www.decadevolcano.net/photos/photo_gallery.htm (Diakses tanggal 20 Februari jam 13:45)
3.      earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=38975 (Diakses tanggal 20 Februari jam 14:45)



3. GAS RUMAH KACA



















GAS RUMAH KACA

Gas rumah kaca merupakan gas yang dapat menyerap dan memancarkan radiasi dengan gelombang panjang (inframerah) di dalam atmosfer planet. Fenomena yang terjadi biasa disebut dengan “efek rumah kaca”. Hal ini dinamakan demikian karena fenomena dan efek yang dihasilkan sama dengan panel-panel kaca dari rumah kaca. Dari keseluruhan sinar matahari yang sampai ke permukaan bumi, sekitar 40% dari energi sinar tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer dalam bentuk gelombang panjang inframerah. Sekitar 75% dari energi tersebut diserap oleh uap air, karbon dioksida, gas metana, nitrogen oksida, dan gas rumah kaca lainnya. Proses penyerapan ini merupakan proses molekular yang natural sehingga energi yang diserap oleh gas-gas tersebut dipancarkan kembali ke berbagai arah. Sebagai hasilnya, sebanyak 50% dari energi yang dipancarkan tersebut kembali ke permukaan bumi dan berubah kembali menjadi energi panas. Melalui proses ini, gas rumah kaca menjadi salah satu penyebab dari energi panas yang terdapat pada permukaan bumi dan atmosfer bagian bawah.


Konsentrasi dari karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida naik secara drastic sejak dimulainya Revolusi Industri yang disebabkan oleh kegiatan manusia. Pembakaran bahan bakar fosil, perubahan dari penggunaan lahan, meningkatnya agricultural secara intesif, dan bertambahnya populasi manusia di seluruh dunia menjadi penyebab utama dari meningkatnya konsentrasi dari gas-gas tersebut. Gas-gas rumah kaca lain yang terdapat pada atmosfer bumi diantaranya adalah uap air, ozon, sulfur heksaklorida, dan CFC.





Karbon Dioksida
Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer pada tahun 1700-an adalah sekitar 280 ppm. Konsentrasi dari karbon dioksida yang terdapat pada atmosfer kini adalah sekitar 390 ppm.
Pembakaran Bahan Bakar Fosil


Penyebab utama dari peningkatan konsentrasi karbon dioksida tersebut adalah aktivitas yang berhubungan dengan Revolusi Industri. Emisi dari pembakaran bahan bakar fosil menambahkan sekitar 65% karbon dioksida ke dalam atmosfer. Pembakaran bahan bakar fosil menyumbangkan sekitar 8.7 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Penggunaan bahan bakar batubara sebagai pembangkit listrik menjadi sumber utama, sementara penggunaan bahan bakar minyak dan gas menjadi sumber yang cukup berpengaruh.

Emisi Gas, Dalang Pengurangan Kawasan Hutan



35% dari peningkatan jumlah karbon dioksida yang masuk ke dalam atmosfer berasal dari pengurangan kawasan hutan dan pengalihgunaan padang rumput, kawasan hutan, dan ekosistem hutan menjadi sistem agrikultur yang berkurang produktivitasnya. Pengurangan kawasan hutan meliputi penebangan pohon, pembuatan arang, praktik tebang-dan-bakar, serta degradasi hutan. Pengurangan kawasan hutan dan pengalihgunaan lahan dapat menyebabkan dampak ganda terhadap penambahan jumlah karbon dioksida ke dalam atmosfer. Ekosistem alami dapat menyimpan 20 hingga 100 kali lebih banyak karbon dioksida per unit luas dibandingkan dengan sistem agrikultur. Baik pengurangan kawasan hutan dan pengalihan fungsi dari penggunaan lahan mengurangi jumlah massa tumbuhan atau biomassa yang terdapat pada permukaan bumi. Pengurangan tersebut menyebabkan perpindahan karbon dioksida yang tersimpan di dalam biomassa tersebut ke permukaan bumi melalui dekomposisi dan pembakaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gas Metana


Sejak tahun 1750, konsentrasi gas metana di atmosfer telah meningkat hingga mencapai 150%. Penyebab utama bertambahnya konsentrasi gas metana di dalam atmosfer adalah penanaman padi, peternakan domestik, penyubliman metana klarat beku yang terdapat di dasar laut, rayap, gas yang terbentuk dalam landfill, pengambilan minyak dan gas, serta penambangan batubara.

Gambar xx. Grafik berikut menggambarkan kenaikan konsentrasi metana di atmosfer dari tahun 1008 hingga 2001. Kenaikan dari konsentrasi metana di alam adalah eksponensial. Ekstrapolasi ke dalam tahun-tahun berikutnya akan memiliki kecenderungan untuk terus mengalami kenaikan.
Negara-negara yang menjadi penghasil metana terbanyak adalah Cina, India, Brazil, Mexico, dan Rusia. Negara-negara tersebut diproyeksikan akan tetap menjadi penghasil metana terbanyak hingga tahun 2050. Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa menghasilkan lebih sedikit emisi metana, dan tren dari kedua negara tersebut cenderung datar hingga menurun.

 



Penanaman Padi
Penanaman padi, baik yang alami maupun buatan manusia,  hingga saat ini merupakan sumber dari 20% emisi gas metana yang terdapat di seluruh dunia. Kondisi anaerob yang berhubungan dengan penggenangan air di sawah membentuk gas metana. Jumlah gas metana yang dihasilkan di sawah sulit ditentukan secara akurat. Lebih dari 60% sawah ditemukan di India dan Cina, di mana data ilmiah mengenai tingkat emisi sulit untuk didapatkan. Walaupun demikian, para ilmuwan percaya bahwa kontribusi dari sawah cukup besar karena penanaman padi telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1950. Peningkatan emisi metana dari sawah terjadi akibat meningkatnya kebutuhan pangan dari populasi manusia yang terus meningkat sehingga berdampak pada peningkatan luas lahan yang ditanami oleh padi. 





Emisi Peternakan Ruminansia
Peternakan hewan Ruminansia merupakan sumber metana lain yang cukup pentin. Hewan yang diternakkan melepaskan metana ke dalam lingkungan sebagai hasil dari pencernaan rumput. Sebagai contoh, seekor sapi biasanya menghasilkan sekitar 150 gram metana per hari. Emisi metana tersebut menjadi lebih besar dengan jutaan domba dan kambing yang dimanfaatkan untuk keperluan manusia di seluruh dunia. Beberapa peneliti percaya bahwa penambahan gas metana yang berasal dari hewan ternak telah meningkat lebih dari empat kali lipat sejak satu abad yang lalu.

Landfill

Landfill merupakan sumber metana yang cukup besar. Metana terbentuk di landfill ketika limbah organik diuraikan secara anaerob (tanpa oksigen). Jumlah metana yang dihasilkan bergantung kepada faktor jenis limbah, kadar air yang terkandung dalam limbah, dan desain dan manajemen operasi dari landfill itu sendiri. Emisi gas metana dapat dikurangi dengan membakar gas tersebut unutk digunakan sebagai penghasil energi listrik.
Methane Clathrate


 Tumpukan methane clathrate beku ditemukan di dasar laut dan di dasar permafrost merupakan sumber alami dari gas rumah kaca potensial yang mungkin memberikan efek yang cukup signifikan terhadap iklim bumi. Penelitian menemukan kemungkinan telah dilepaskannya metana dalam jumlah yang cukup banyak yang berasal dari tumpukan methane clathrate yang ditemukan di Kutub Utara. Penelitian lain mengungkapkan bahwa penambahan gas metana ke dalam atmosfer mungkin disebabkan oleh pemanasan global itu sendiri. Peneliti dari NASA, James Hansen, menduga bahwa emisi dari methane clathrate akan terus bertambah karena suhu planet yang semakin hangat mengarah ke situasi yang telah disebutkan.

 

 

 



Nitrogen Oksida





Konsentrasi rata-rata dari nitrogen oksida kini mengalami kenaikan di tingkat 0.2-0.3% per tahun. Peran nitrogen oksida dalam peningkatan efek rumah kaca relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan gas-gas rumah kaca yang telah disebutkan sebelumnya. Nitrogen oksida memiliki peranan terhadap pemupukan buatan di dalam ekosistem. Dalam kasus-kasus ekstrem, pemupukan tersebut dapat menyebabkan kematian hutan, eutrofikasi dari habitat perairan, dan kepunahan spesies. Sumber dari peningkatan nitrogen oksida di dalam atmosfer meliputi pengalihgunaan lahan terbuka, pembakaran bahan bakar fosil,  pembakaran biomassa, dan pemupukan tanah. Sebagian besar dari nitrogen oksida yang masuk ke dalam atmosfer tiap tahunnya berasal dari pembukaan lahan dan pengalihgunaan ekosistem hutan, sabana, dan padang rumput menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Kedua hal tersebut mengurangi jumlah nitrogen yang tersimpan di tumbuhan dan tanah melalui penguraian materi organik. Nitrogen oksida juga dilepaskan ke dalam atmosfer ketika bahan bakar fosil dan biomassa dibakar. Penggunaan pupuk nitrat dan ammoniak merupakan penyebab utama dari nitrogen oksida. Banyaknya nitrogen oksida yang dipelaskan dari proses tersebut sulit untuk diukur. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pupuk menyumbangkan sebanyak 50% nitrogen oksida yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya.
Gambar xx. Grafik berikut menggambarkan kenaikan dari nitrogen oksida yang terdapat di atmosfer dari tahun 1978-2010. Ekstrapolasi ke depannya menunjukkan peningkatan tahunan akan terus berlangsung.


Chlorofluorocarbon


 Chlorofluorocarbon (CFC) merupakan senyawa kimia buatan yang sangat persisten di dalam atmosfer. Pada umumnya senyawa tersebut ribuan kali lebih berpotensi menjadi gas rumah kaca dibandingkan dengan karbon dioksida.  Chlorofluorocarbon merupakan senyawa yang bisa dengan mudah diubah dari bentuk gas menjadi cair atau pun sebaliknya. Oleh karena itu, CFC banyak digunakan di dalam kaleng aerosol, lemari pendingin, dan pendingin ruangan. Protokol Montreal merupakan perjanjian tingkat internasional untuk mengurangi penggunaan senyawa-senyawa yang dapat melubangi lapisan ozon, yang membutuhkan penghentian produksi CFC pada tahun 2020 di negara maju dan 2030 di negara berkembang.

SUMBER :

Author : Dimas Pradhipta 15308o73